Selasa, 03 Juli 2012

Tugas Individu UAS Filsafat Ilmu Dalam Pendidikan


Jawaban Soal UTS  & UAS
Diselesaikan untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Filsafat Ilmu Dalam Pendidikan
Dosen Pembimbing : Dr. H. Khairan M. Arif, M.Ed
Dikumpulkan : 4 Juli 2012
Description: uia
















Nama Mahasiswi :
Sri Kartini(NIM :5520110019)

Program Magister Teknologi Pendidikan
Universitas Islam Assyafi’iyah
Jakarta
2012
Jawaban Soal UTS  & UAS
1.           Filsafat ilmu adalah ilmu yang sangat penting bagi seorang guru, jelaskan apa itu filsafat ilmu menurut para ahli?
Jawaban :
Filsafat Ilmu menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1)     A. Cornelius Benjamin (dalam The Liang Gie, 19 : 58) memandang filsafat ilmu sebagai berikut. ”That philosophic discipline which is the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual disciplines.” Filsafat ilmu, menurut Benjamin, merupakan cabang dari filsafat yang secara sistematis menelaah sifat dasar ilmu, khususnya mengenai metode, konsep-konsep, dan praanggapan-praanggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang-cabang pengetahuan intelektual.

2)      Conny Semiawan at al (1998 : 45) menyatakan bahwa filsafat ilmu
pada dasarnya adalah ilmu yang berbicara tentang ilmu pengetahuan (science of sciences) yang kedudukannya di atas ilmu lainnya.

3)     Jujun Suriasumantri (2005 : 33-34) memandang filsafat ilmu sebagai bagian   dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang ingin menjawab tiga kelompok pertanyaan mengenai hakikat ilmu sebagai berikut.
Kelompok pertanyaan pertama antara lain sebagai berikut ini.
Objek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia ?
Kelompok pertanyaan kedua : Bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya pengetahuan yang berupa ilmu ? Bagaimana prosedurnya ? Hal-hal apa yang harus diperhatikan  agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? Apa yang dimaksud dengan kebenaran ? Dan seterusnya.
Dan terakhir, kelompok pertanyaan ketiga : Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu ? Bagaimana kaitan antara cara menggunakan ilmu dengan kaidah-kaidah moral ? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral Dan seterusnya.
Kelompok pertanyaan pertama merupakan tinjauan ilmu secara ontologis. Sedangkan pertanyaan-pertanyaan kelompok kedua merupakan tinjauan ilmu secara epistemologis. Dan pertanyaanpertanyaan kelompok ketiga sebagai tinjauan ilmu secara aksiologis.

2.           Untuk memperoleh pengetahuan, ada dua dasar pengetahuan, jelaskan bagaimana dasar-dasar pengetahuan tersebut melahirkan pengetahuan? Dan jelaskan kriteria-kriteria kebenaran menurut filsafat?
Jawaban :

2.1. Dasar-dasar Pengetahuan
Pengetahuan berkembang antara lain karena manusia memiliki rasa ingin tahu (curiousity is beginning of knowledge). Hasrat ingin tahu manusia terpuaskan bila dirinya memperoleh pengetahuan yang benar (kebenaran) mengenai apa
yang dipertanyakan. Untuk itu manusia menempuh berbagai cara agar keinginan tersebut terwujud.
Berbagai tindakan untuk memperoleh pengetahuan secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Secara non ilmiah, yang mencakup :
a) akal sehat, b) prasangka, c) intuisi, d) penemuan kebetulan dan coba-coba,
dan e) pendapat otoritas dan pikiran kritis, serta tindakan secara ilmiah (Sumadi Suryabrata, 2000: 3). Usaha yang dilakukan secara nonilmiah menghasilkan pengetahuan (knowledge), dan bukan science.
b. Sedangkan melalui usaha yang bersifat ilmiah menghasilkan pengetahuan ilmiah atau ilmu.

W. Huitt (1998), dalam artikelnya yang berjudul “Measurement, Evaluation, and Research : Ways of Knowing”, menyatakan bahwa ada lima macam cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar (kebenaran) yaitu : pengalaman, intuisi, agama, filsafat, dan ilmu.
Dengan cara-cara tersebut dapat diperoleh diperoleh kebenaran pengalaman atau kebenaran indera, kebenaran intuitif, kebenaran religius, kebenaran filosofis, dan kebenaran ilmiah.

2.2. Kebenaran
a. Jenis-jenis kebenaran
Telah dipaparkan di atas bahwa berdasarkan cara memperolehnya kebenaran dibedakan menjadi lima jenis, yaitu kebenaran pengalaman, kebenaran intuisi, kebenaran religius, kebenaran filosofis, dan kebenaran ilmiah.
b. Teori-teori kebenaran
Ilmu dikembangkan untuk mendapatkan pengetahuan yang benar atau kebenaran ilmiah. Persoalan esensial yang perlu dijawab adalah : kebenaran itu apa ? Atau, bilamana suatu pernyataan dinyatakan benar ? Ada beberapa teori yang berbicara tentang kebenaran, yaitu teori koherensi, teori korespondensi, dan teori pragmatisme.
1) Teori Koherensi (coherence theory of truth)
Menurut teori koherensi, suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataanpernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
Bila pernyataan semua logam bila kena panas memuai adalah suatu pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa besi merupakan logam, sehingga bila besi kena panas memuai adalah pernyataan yang benar Matematika adalah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan dengan pembuktian berdasarkan teori koherensi. Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322) telah mengembangkan  teori koherensi berdasarkan pola pemikiran yang digunakan Euclid  dalam menyusun ilmu ukurnya (Jujun .S., 2005 : 57).
Teori koherensi menjadi dasar dalam pengembangan ilmu deduktif atau matematik. Nama ilmu deduktif diberikan karena dalam menyelesaikan suatu masalah atau membuktikan suatu kebenaran tidak didasarkan pada pengalaman atau hal-hal yang bersifat faktual, melainkan didasarkan atas deduksi-deduksi atau penjabaran-penjabaran.
Apa yang harus dipenuhi agar ciri-ciri deduksi dapat diketahui dengan tepat, merupakan masalah pokok yang dihadapi filsafat ilmu. Pendirian yang banyak dianut sampai saat ini adalah :
deduksi merupakan penalaran yang sesuai dengan hukum-hukum serta-serta aturan logika formal, dalam hal ini orang menganggap bahwa tidaklah mungkin titik tolak-titik tolak yang benar menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang tidak benar (Beerling at al, 1996 : 23).

2) Teori korespondensi (correspondence theory of truth)
Teori ini dikembangkan oleh Bertrand Russel (1872-1970).  Menurut teori korespondensi, suatu pernyataan dapat dianggap benar bila materi pengetahuan yang terkandung dalam pernyataan tersebut berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Pernyataan bahwa si A sedang mengalami depresi berat dapat dipandang sebagai pernyataan yang benar bila secara faktual memang si A sedang mengalami
depresi berat. Teori korespondensi dijadikan dasar dalam pengembangan
ilmu-ilmu empiris. Ilmu-ilmu empiris memperoleh bahan-bahannya melalui pengalaman. Tetapi pengalaman atau empiria ilmiah sesungguhnya lebih dari sekadar pengalaman sehari-hari serta hasil tangkapan inderawi, cara ilmiah untuk menangkap sesuatu harus dipelajari terlebih dahulu dan untuk sebagian besar tergantung pada pendidikan ilmiah yang harus ditempuh oleh
peneliti (Beerling at al, 1996 : 53).

3) Teori pragmatisme (pragmatic theory of truth)
Pencetus teori pragmatisme adalah Charles S. Peirce (1839- 1914). Menurut teori ini, suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Pernyataan bahwa motivasi merupakan faktor yang sangat penting untuk meningkatkan prestasi belajar anak dapat dianggap benar bila pernyataan tersebut mempunyai kegunaan praktis, yaitu
bahwa prestasi belajar anak dapat ditingkatkan melalui pengembangan motivasi belajarnya. Teori pragmatisme dijadikan dasar dalam pengembangan ilmu terapan.

3.           Manusia adalah makhluk belajar dan berfikir, oleh karenanya, setiap orang lahir dengan kemampuan belajar, jelaskan hal tersebut sesuai filsafat pendidikan yang anda ketahui!
Jawaban :
Manusia adalah makhluk belajar dan berfikir. Setiap manusia lahir dengan akal budi dan kemampuan belajar. Menurut Rinjin (1997 : 9-10), filsafat dan ilmu timbul dan berkembang karena akal budi, thauma, dan aporia.
a. Manusia merupakan makhluk berakal budi.
Dengan akal budinya, kemampuan manusia dalam bersuara bisa
berkembang menjadi kemampuan berbahasa dan berkomunikasi,
sehingga manusia disebut sebagai homo loquens dan animal
symbolicum.
Dengan akal budinya, manusia dapat berpikir abstrak dan konseptual
sehingga dirinya disebut sebagai homo sapiens (makhluk pemikir)
atau kalau menurut Aristoteles manusia dipandang sebagai animal
that reasons yang ditandai dengan sifat selalu ingin tahu (all men by
nature desire to know).
Pada diri manusia melekat kehausan intelektual (intellectual curiosity),
yang menjelma dalam wujud aneka ragam pertanyaan. Bertanya
adalah berpikir dan berpikir dimanifestasikan dalam bentuk pertanyaan.
b. Manusia memiliki rasa kagum (thauma) pada alam semesta dan isinya Manusia merupakan makhluk yang memiliki rasa kagum pada apa yang diciptakan oleh Sang Pencipta, misalnya saja kekaguman pada matahari, bumi, dirinya sendiri dan seterusnya. Kekaguman tersebut kemudian mendorong manusia untuk berusaha mengetahui alam semesta itu sebenarnya apa, bagaimana asal usulnya (masalah kosmologis). Ia juga berusaha mengetahui dirinya sendiri, mengenai eksistensi, hakikat, dan tujuan hidupnya.
c. Manusia senantiasa menghadapi masalah
Faktor lain yang juga mendorong timbulnya filsafat dan ilmu adalah  masalah yang dihadapi manusia (aporia). Kehidupan manusia selalu diwarnai dengan masalah, baik masalah yang bersifat teoritis maupun praktis. Masalah mendorong manusia untuk berbuat dan mencari jalan keluar yang tidak jarang menghasilkan temuan yang sangat berharga (necessity is the mother of science).

4.           Filsafat mengajarkan kita berfikir ilmiah, untuk berfikir secara ilmiah sebutkan dan jelaskan tiga dasar berfikir ilmiah tersebut
Jawaban :
Ilmu, yang dalam bahasa Inggris dinyatkan dengan science, bukan sekadar kumpulan fakta, meskipun di dalamnya juga terdapat berbagai fakta. Selain fakta, di dalam ilmu juga terdapat teori, hukum, prinsip, dst., yang diperoleh melalui prosedur tertentu yaitu metode ilmiah. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah (Jujun S., 2005 : 119). Sedangkan pengetahuan dapat diperoleh melalui beberapa cara, yaitu pengalaman, intuisi, pendapat otoritas, penemuan secara kebetulan dan coba-coba (trial and error) maupun penalaran. Ada paradigma baru yang memandang ilmu bukan hanya sebagai produk. The Liang Gie (1991 : 90), setelah mengkaji berbagai pendapat tentang ilmu, menyatakan bahwa ilmu dapat dipandang sebagai proses, prosedur, dan produk. Sebagai proses, ilmu terwujud dalam aktivitas penelitian. Sebagai prosedur, ilmu tidak lain adalah metode ilmiah. Dan sebagai produk, ilmu merupakan pengetahuan yang tersusun secara sistematis.
Ketiga dimensi ilmu tersebut merupakan kesatuan logis yang harus ada secara berurutan. Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas tertentu, yaitu penelitian ilmiah. Aktivitas tersebut harus dilaksanakan dengan metode ilmiah yang diharapkan menghasilkan pengetahuan ilmiah. Kesatuan dan interaksi antara aktivitas, metode, dan pengetahuan ilmiah tersebut oleh The Liang Gie (1991 : 88) . Masing-masing dimensi tersebut memiliki karakteristik tertertentu. Ilmu sebagai aktivitas merupakan langkah-langkah yang bersifat rasional,
kognitif, dan teleologis (The Liang Gie, 1991: 108). Ilmu sebagai metode ilmiah memiliki unsur-unsur pola prosedural, tata langkah, teknik-teknik, dan instrumen-instrumen tertentu (The Liang Gie, 1991 : 118).
Pendapat The Liang Gie tentang hakikat ilmu kemudian kemudian dirumuskan sebagai berikut. Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan (The Liang Gie, 1991 : 130).

5.           Bagaimana langkah-langkah menulis karya ilmiah yg baik menurut metodologi penelitian?
Jawaban :
Dalam menulis karya ilmiah kita harus paham terlebih dahulu metode Ilmiah dan berberapa jenis metode penelitian.
       a. Pengertian metode Ilmiah
Menurut Soerjono Soemargono (1993 : 17), istilah metode berasal dari bahasa Latin methodos, yang secara umum artinya cara atau jalan untuk memperoleh pengetahuan sedangkam metode ilmiah adalah cara atau jalan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. The Liang Gie (1991 : 110), menyatakan bahwa metode ilmiah adalah prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memper-kembangkan pengetahuan yang telah ada. Dalam beberapa literatur seringkali metode dipersamakan atau dicampuradukkan dengan pendekatan maupun teknik. Metode, (methode), pendekatan (approach), dan teknik (technique) merupakan tiga hal yang berbeda walaupun bertalian satu sama lain (The Liang Gie, 1991 : 116). Dengan mengutip pendapat benerapa pakar, The Liang Gie menjelaskan perbedaan ketiga hal tersebut sebagai berikut. Pendekatan pada pokoknya adalah ukuran-ukuran untuk memilih masalah-masalah dan data yang bertalian, sedangkan metode adalah lImu prosedur untuk mendapatkan dan mempergunakan data. Pendekatan dalam menelaah suatu masalah dapat dilakukan berdasarkan atau dengan memakai sudut tinjauan dari ilmu-ilmu tertentu, misalnya psikologi, sosiologi, politik, dst. Dengan pendekatan berdasarkan psikologi, maka masalah tersebut dianalisis dan dipecahkan berdasarkan konsep-konsep psikologi. Sedangkan bila masalah tersebut ditinjau berdasarkan pendekatan sosiologis, maka konsepkonsep sosiologi yang dipakai untuk menganalisis dan memecahkan masalah tersebut.
Pengertian metode juga tidak sama dengan teknik. Metode ilmiah adalah berbagai prosedur yang mewujudkan pola-pola dan tata langkah dalam pelaksanaan penelitian ilmiah. Pola dan tata langkah prosedural tersebut dilaksanakan dengan cara-cara operasional dan teknis yang lebih rinci. Cara-cara itulah yang mewujudkan teknik. Jadi, teknik adalah suatu cara operasional teknis yang seringkali bercorak rutin, mekanis, atau spesialistis untuk memperoleh dan menangani data dalam penelitian (The Liang Gie (1991 : 117).
     b. Unsur-unsur metode ilmiah
Metode ilmiah yang merupakan suatu prosedur sebagaimana digambarkan oleh The Liang Gie, memuat berbagai unsur atau komponen yang saling berhubungan. Unsur-unsur utama metode ilmiah menurut The Liang Gie (1991 : 118) adalah pola prosedural, tata langkah, teknik, dan instrument.
Pola prosedural, antara lain terdiri dari : pengamatan, percobaan, pengukuran, survai, deduksi, induksi, dan analisis. Tata langkah,mencakup : penentuan masalah, perumusan hipotesis (bila perlu), pengumpulan data, penurunan kesimpulan, dan pengujian hasil. Teknik, antara lain terdiri dari : wawancara, angket, tes, dan  perhitungan. Aneka instrumen yang dipakai dalam metode ilmiah antara lain : pedoman wawancara, kuesioner, timbangan, meteran, komputer.
      c. Macam-macam Metode ilmiah
Johson (2005) dalam arkelnya yang berjudul ”Educational Research : Quantitative and Qualitative”, yang termuat dalam situs internet (http://www.south.edu/coe/bset/johnson) membedakan metode ilmiah menjadi dua metode deduktif dan metode induktif. Menurut Johnson, metode deduktif terdiri tiga langkah utama, yaitu :first, state the hypothesis (based on theory or research literature); next,collect data to test hypothesis; finally, make decision to accept or reject the hypothesis.
Sedangkan tahapan utama metode induktif menurut Johnson adalah : first, observe the world; next, search for a pattern in what is observed; and finally, make a generalization about what is occuring.
Metode deduktif merupakan metode ilmiah yang diterapkan dalam penelitian kuantitatif. Dalam metode ini teori ilmiah yang telah diterima kebenarannya dijadikan acuan dalam mencari kebenaran selanjutnya. Sedangkan metode induktif merupakan metode yang diterapkan dalam penelitian kualitatif. Penelitian ini dimulai dengan pengamatan dan diakhiri dengan penemuan teori.

1) Metode Deduktif
Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial, dan Politik (1996 : 6) menyatakan bahwa pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan : a) kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun; b) menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut; dan c) melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataannya secara faktual.
Selanjutnya Jujun menyatakan bahwa kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikatif ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut (2005 : 127- 128).
a) Perumusan masalah, yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta  dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
b) Penyusunan kerangka berpikir dalam penyusunan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan
memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.
c) Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari dari kerangka berpikir yang dikembangkan.
d) Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan faktafakta yang relevan dengan hipotesis, yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipoteisis tersebut atau tidak.
e) Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima.

2) Metode Induktif
Metode induktif merupakan metode ilmiah yang diterapkan dalam penelitian kualitatif. Metode ini memiliki dua macam tahapan : tahapan penelitian secara umum dan secara siklikal (Moleong,2005 : 126).
a) Tahapan penelitian secara umum
Tahapan penelitian secara umum secara garis besar terdiri dari tiga tahap utama, yaitu (1) tahap pralapangan, (2) tahap pekerjaan lapangan, dan (3) tahap analisis data. Masing-masing tahap tersebut terdiri dari beberapa langkah.
b) Tahapan penelitian secara siklikal
Menurut Spradley (Moleong, 2005 : 148), tahap penelitian kualitatif, khususnya dalam etnografi merupakan proses yang berbentuk lingkaran yang lebih dikenal dengan proses penelitian siklikal, yang terdiri dari langkah-langkah : (1) pengamatan deskriptif, (2) analisis demein, (3) pengamatan terfokus, (4) analisis taksonomi, (5) pengamatan terpilih, (6)
analisis komponen, dan (7) analisis tema.

Daftar Pustaka


Jujun S. Suriasumantri. (2005) Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer.
Jakarta : Sinar Harapan.
Rinjin, Ketut. (1997) Pengantar Filsafat Ilmu dan Ilmu Sosial Dasar.
Bandung : CV Kayumas.
Semiawan, Conny et al. (1998) Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu .
Bandung : CV Remaja Karya.
The Liang Gie. (1991) Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Liberty.

Rabu, 20 Juni 2012

Tugas Individu Pengembangan Sumber Belajar


Makalah
Penggunaan Multimedia dalam Pembelajaran
Disusun untuk Memenuhi Tugas Individu
Mata Kuliah Pengembangan Sumber Belajar
Dosen Pengampu : Dosen : DR.Samsudin, M.Pd
Dikumpulkan : 16 Juni 2012


 
















Nama Mahasiswi :
Sri Kartini(NIM :5520110019)
Program Magister Teknologi Pendidikan
Universitas Islam Assyafi’iyah
Jakarta
2012





PENGGUNAAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN

BAB  I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang
Inovasi di Indonesia sudah cukup berkembang. Dalam bentuk sistem pendidikan, inovasi dan teknologi pada tataran ini menjangkau area kebijakan penyelenggaraan proses pendidikan.  Di Indonesia juga mulai menerapkan Inovasi dan teknologi pada konsep pendidikan dan konsep belajar. Inovasi dan teknologi pada tataran ini menjangkau area konseptual pendidikan, misalnya konsep pendidikan yang membebaskan yang diungkapkan oleh Paul Freire, konsep Quantum Learning (Potter dan Hernacki, 2001), Accelerated Learning, dan sebagaimya.
Penerapan inovasi yang dilakukan adalah elaborasi hasil teknologi sebagai media belajar di sekolah, misalnya Computer Assisted Instruction (CAI), alat-alat canggih berupa audio visual, alat-alat permainan edukatif atau media cetak berupa buku-buku, serta pengadaan alat-alat laboratorium yang berkualitas.
Kemajuan di bidang teknologi pendidikan (educational technology), maupun teknologi pembelajaran (instructional technology) menuntut digunakannya berbagai media pembelajaran (instructional media) serta peralatan-peralatan yang semakin canggih (sophisticated). Melalui memanfaatkan teknologi multimedia, dalam batas-batas tertentu akan dapat memperbesar kemungkinan siswa untuk belajar lebih banyak, mencamkan apa yang dipelajarinya lebih baik, dan meningkatkan kualitas pembelajaran dalam rangka meningkatkan ketercapaian kompetensi
Sementara itu realitas yang ada dan terjadi terjadi di lapangan, ada kesan bahwa kemampuan guru masih rendah. Sebagian besar dari mereka masih berpredikat sebagai pelaksana kurikulum, bahkan di antara kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan lebih bersifat rutinitas. Guru belum siap menghadapi berbagai perubahan, di samping terbatasnya akses pada materi pembelajaran mutakhir. Motivasi dan kesiapan belajar peserta didik juga rendah. Kurangnya waktu belajar, lingkup materi yang sangat luas, serta laju/akselerasi perubahan (change) di bidang ilmu, teknologi dan seni berjalan begitu cepat. Realitas di lapangan yang menunjukkan adanya keterbatasan media pembelajaran baik jenis maupun jumlahnya, serta kemampuan guru memanfaatkan media masih kurang. Suasana kelas kurang memotivasi peserta didik melakukan kegiatan belajar. Demikian juga interaksi pembelajaran belum optimal.
Kemampuan guru masih sangat perlu untuk senantiasa ditingkatkan kualitasnya, terutama jika dikaitkan dengan tuntutan tugas guru di era globaliasi saat ini yang ditandai oleh semakin meluasnya penggunaan teknologi multimedia. Permasalahan yang harus segera dipecahkan adalah: bagaimana upaya meningkatkan kualitas pembelajaran geografi melalui pemanfaatan teknologi multimedia Jika para guru mampu memanfaatkan, lebih-lebih mengembangkan pembelajaran yang berbasis teknologi multimedia maka dipastikan mutu pembelajaran akan meningkat lebih baik, terutama jika dikaitkan dengan era saat ini yang dicirikan oleh teknologi informasi. Dengan demikian, para guru lebih memiliki kompetensi mengajar sesuai tuntutan era teknologi informasi dan mendukung optimalisasi pembelajaran.

1.2    Rumusan Masalah
Apa manfaat penggunaan Multimedia dalam pembelajaran

1.3    Tujuan Penyusunan
Mendeskripsikan manfaat  Penggunaan Multimedia dalam pembelajaran

1.4    Metode Penyusunan
Dalam penyusunan makalah ini penulis menggunakan metode penelusuran internet yang berhubungan dengan materi







BAB II
KAJIAN TEORI

2.1    Pengertian Multimedia
Istilah media yang merupakan bentuk jamak dari medium secara harfiah berarti perantara atau pengantar. AECT (1979;21) mengartikan media sebagai segala bentuk dan saluran untuk proses transmisi informasi. Sedang Olson (1974:12) mendefinisikan medium sebagai teknologi untuk menyajika, merekam,membagi, dan mendistribusikan simbol dengan melalui rangsangan indra tertentu disertai penstrukturan informasi.
Multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih media yang terdiri dari teks, grafis,gambar,foto, audio, video, dan animasi secara terintregrasi. multimedia terbagi menjadi dua kategori yaitu :
1.    Multimedia linier adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang  dapat dioprasikan oleh pengguna. Multimedia ini berjalan sekuensial (berurutan),contohnya: TV dan film.
2.    Multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioprasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. contoh multimedia interaktif adalah multimedia pembelajarn interaktif, aplikasi game, dll.
3.      Heinich, dkk (1982) mengartikan istilah media sebagai “the term refer to anything that carries information between a source and a receiver”. Sementara media pembelajaran dimaknai sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar. Batasan tersebut terungkap antara lain dari pendapat-pendapat para ahli seperti Wilbur Schramm (1971), Gagne dan Briggs (1970). Dari pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa setidaknya mereka sependapat bahwa: (a) media merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut, dan (b) bahwa materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran, dan (c) bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar.
Konsep teknologi multimedia (TM) bukan sekadar penggunaan media secara majemuk untuk pencapaian kompetensi tertentu, namun mencakup pengertian perlunya integrasi berbagai jenis media yang digunakan dalam suatu penyajian yang tersusun secara baik (sistemik dan sistematik). Masing-masing media dalam teknologi multimedia ini dirancang untuk saling melengkapi sehingga secara keseluruhan media yang digunakan akan menjadi lebih besar peranannya dari pada sekedar penjumlahan dari masing-masing media. Dengan demikian teknologi multimedia yang dimaksud dalam tulisan ini tidak semata-mata penggunaan berbagai media secara bersamaan, namun mensyaratkan atau identik dengan teknologi multimedia yang berbasis komputer, interaktif dan pembelajaran mandiri. Dengan TM yang berbasis komputer juga terkandung sifat interaktif antara siswa dengan media secara individual. Maka konsep teknologi multimedia selalu berkonotasi atau identik dengan media pembelajaran yang berbasis computer, interaktif dan mandiri.
Bentuk-bentuk teknologi multimedia yang banyak digunakan di kelas/sekolah adalah kombinasi multimedia dalam bentuk satu kit (perangkat) yang disatukan. Satu perangkat (kit) multimedia adalah gabungan bahan-bahan pembelajaran yang meliputi lebih dari satu jenis media dan disusun atau digabungkan berdasarkan atas satu topik tertentu. Perangkat (kit) ini dapat mencakup slide, film, suara, gambar diam, grafik, peta, buku, chart, dan lain-lain menjadi satu model. Misalnya: CD pembelajaran atau CD interaktif.
Sejumlah karakteristik yang menonjol dari TM di antaranya adalah: (1) small steps, (2) active responding, dan (3) immediate feedback. (Burke, dalam Pramono, 1996:19). Sementara Elida dan Nugroho (2003:111) yang mengutip Roblyer dan Hanafin mengidentifikasi adanya 12 karakteristik TM yaitu: (1) dirancang berdasarkan kompetensi/tujuan pembelajaran, (2) dirancang sesuai dengan karakteristik pebelajar, (3) memaksimalkan interaksi, (4) bersifat individual,(5) memadukan berbagai jenis media, (6) mendekati pebelajar secara positif, (7) menyiapkan bermacam-macam umpan balik, (8) cocok dengan lingkungan pembelajaran, (9) menilai penampilan secara patut, (10) menggunakan sumber-sumber komputer secara maksimal, (11) dirancang berdasarkan prinsip desain pembelajaran, (12) seluruh program sudah dievaluasi.
Dengan melihat sejumlah karakteristiknya, maka TM memiliki sejumlah manfaat di antaranya: (1) mengatasi kelemahan pada pembelajaran kelompok maupun individual, (2) membantu menjadikan gambar atau contoh yang sulit didapatkan di lingkungan sekolah menjadi lebih konkrit, (3) memungkinkan pengulangan sampai berkali-kali tanpa rasa malu bagi yang berbuat salah, (4) mendukung pembelajaran individual, (5) lebih mengenal dan terbiasa dengan komputer, (6) merupakan media pembelajaran yang efektif, (7) menciptakan pembelajaran yang “enjoyment” atau “joyful learning”.

2.2    Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan yang memungkinkan  terjadinya proses belajar hal ini di tegaskan oleh Yusufhadi Miarso (1985) dalam bukunya Menyemai Benih-Benih Teknologi memberikan batasan media pembelajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. Batasan yang sederhana ini memiliki arti yang sangat luas dan mendalam, mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran.
Istilah pembelajaran digunakan untuk menunjukan usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja, dengan tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta yang pelaksanaanya terkendali.Perlu ditegaskan bahwa dalam proses pendidikan sering kali seseorang belajar tanpa sengaja, tanpa tahu tujuannya terlebih dahulu, dan tidak selalu terkendalikan baik dalam artian isi, waktu, proses maupun hasilnya, namun kedua istilah itu –pendidikan dan pembelajaran- dipakai secara bergantian (Yusuf hadi Miarso 2009:4)



BAB III
PEMBAHASAN

Yusufhadi Miarso 2009:4 dalam bukunya Menyemai Benih-Benih Teknologi Pendidikn mengatakan “Berbagai kajian teoritik maupun empirik menunjukan kegunaan media dalam pembelajaran sebagai berikut :
3.1 Kegunaan Media dalam Pembelajaran
a.  Mampu memberikan rangsangan yang bervariasi kepada otak, sehingga otak bisa berfungsi secara optimal
b.  Dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik
c.  Dapat melampaui batas ruang kelas
d.  Memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya
e.  Menghasilkan  keseragaman pengamatan
f.  Membangkitkan keinginan dan minat baru
g.  Membangkitkan motivasi dan merangsang untuk belajar
h.  Memberikan pengalaman yang i tegral/menyeluruh dari sesuatu yang konkret maupun yang abstrak.
i.  Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar mandiri
j.  Meningkatkan kemampuan keterbacaan baru (new literac)
k.  Mampu meningkatkan efek sosial dengan menginkatnya kesadaran duni sekitar
l.  Dapat meningkatkan kemampuan ekspresi diri

3.2 Pedoman Umum Penggunaan Media dalam Proses Pembelajaran
a. Tidak ada suatu media yang terbaik untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran, masing-masing media mempunyai kelebihan dan kekurangan, oleh karena itu pemanfaatan kombinasi dua atau lebih media akan lebih mampu membantu tercapainya tujuan pembelajaran
b. Didasarkan pada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. dengan demikian pemanfaatan media harus menjadi bagian integral dari penyajian pelajaran
c. Mempertimbangkan kecocokan ciri media dengan karakteristikmateri pelajaran yang disajikan
d.  Mnyesuaikan dengan bentuk kegiatan pembelajaran
e.  Disertai persiapan yang cukup
f. Peserta didik perlu disiapkan terlebih dahulu sebelum memulai pembelajaran
g.  Melibatkan partisipasi aktif peserta

3.3 Taksonomi Media untuk Pembelajaran
Menurut Haney dan Ulmer ada tiga kategori uama berbagai bentuk media pembelajaran itu : 1. Media yang mampu menyajikan informasi, karena itu disebut dengan Media Penyaji, 2. Media yang mengandung informasi dan disebut media obyek, 3 media yang memungkinkan untuk berinteraksi dan itu disebut media interaktif.
Taksonomi itu dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut :
Media Penyaji
Kelompok satu : Grafis, Bahan cetak dan gambar diam contoh : Poster-poster dan buku-buku cetak
Kelompok dua : Media proyeksi diam contohnya : Slides (film bingkai), Filmstrip (Film rangkai), Opaque projector ( Proyektor pantul)
Kelompok tiga : Media audio
Kelompok Empat : Audio ditambah Media Visual Diam
Kelompok lima : Gambar hidup (film)
Kelompo enam : Televisi
Kelompo tujuh : Multimedia
Media Objek
Media objek adalah benda tiga dimensi yang mengandung informasi, tidak dalam bentuk penyajian tetapi melalui ciri-ciri fisik dengan dua katagori : objek yang sebenarnya (objek alami dan objek pengganti)  dan objek pengganti dikenal dengan reflika, model atau benda tiruan.
Media Interaktif
Karakteristik kelompok ini adalah peserta didik tidak disuruh memperhatikan penyajian atau objek, tetapi dipaksa untuk berinteraksi selama mengikuti pelajaran



BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
Multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih yang terdiri dari teks, grafis, gambar, audio, video, dan animasi secara terintegrasi. multimedia terbagi menjadi dua kategori yaitu : multimedia linier dan multimedia interaktif.Penggunaan teknologi multimedia yang menekankan kepada unsur pembelajaran interaktif telah membawa persepsi baru dalam era penggunaa komputer dalam bidang pendidikan. Multimedia terdiri dari beberapa objek, teks, grafik, dan image, bunyi, dan video.
Multimedia mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh media lain. Keistimewaan tersebut adalah :Multimedia menyediakan proses interaktif dan memberikan kemudahan timbal balik, artinya Multimedia memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam menentukan topik proses belajar dan multimedia memberikan kemudahan kontrol yang sistematik dalam proses belajar.
secara umum manfaat yang dapat diperoleh adalah proses pembelajaran lebih menarik, interaktif, jumlah waktu mengajar dapat dikurangi, kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan.

4.2  Saran
Semua stikholder dan user pendidikan harus memahami dan mampu menguasai multimedia saat Multimedia dijadikan sebagai Pembelajaran yang integral dan modern

Daftar Pustaka
AECT (1977). The definition of educational technology, Washington DC: AECT, (Edisi Bahasa Indonsia dengan judul: Definisi Teknologi Pendidikan, Seri Pustaka teknologi Pendidikan No. 7, 1994). Jakarta: PAU-UT & PT Rajawali.
Brown, James W., Richard B. Lewis, Fred F. Harcleroad, AV (1977) Intruction : Technology, media, and methods, New York : Mc Graw-Hill Book Company.
Criswell, Eleanor L. (1989). The design of computer-based instruction, New York: Macmillan Publishing Company.
Dale, Edgar, (1969) Audio visual methods in teaching, New York: Holt, Rinehart and Winston Inc. The Dryden Press.
Elida, T. & W. Nugroho (2003). Pengembangan computer assisted instruction (CAI) pada Praktikum Mata Kuliah Jaringan Komputer, Jurnal teknologi pendidikan, Vol. 5 no. 1. ISSN 1441-2744.
Gagne, Robert M. and Leslie J Briggs (1979). Principles of instructional design. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Haggett, Peter (1972). Geography: A modern synthesis. New York: Harper and Row.
Heinich, Robert, Michael Molenda, James D. Russel, (1982) Instructional media: and the new technology of instruction, New York: Jonh Wily and Sons.
Jusufhadi Miarso, dkk., (1984) Teknologi komukikasi pendidikan: Pengertian dan penerapannya di Indonesia. Jakarta: Pustekkom Dikbut dan CV Rajawali.
Kemp, Jerrold E., Gery Morrison and Stevent M. Ross (1994). Designing efective instruction. New York: Mc Millan College Publishing Company, Inc.
Depdiknas (2006). Permendiknas no.22 tentang: Standar Isi
Trini Prastati dan Prasetya Irawan (2001) Media sederhana.Jakarta: PA